Oleh: Azzikri, Delvina Nabila, Farentina Putri, Tri Nugraheni
Maluku Tengah, Indonesia — Saat pertama kali menerima penempatan lokasi riset, Negeri Akoon masih menjadi nama yang hanya bisa kami bayangkan. Riset ini merupakan bagian dari program RIMBAHARI (Research Initiatives on Management of Biocultural Heritage and Resilient Innovations), sebuah program magang hasil kerja sama antara BRWA dan Program Studi Antropologi Universitas Indonesia. Dalam program ini, kami diwajibkan melakukan riset etnografi selama kurang lebih satu setengah bulan untuk menelusuri dan memahami ikatan biokultural di lokasi masing-masing.
Perjalanan kami dimulai pada 12 April dan berakhir pada 7 Juni 2025. Akoon dikenal luas karena praktik sasi adatnya. Terletak di Pulau Nusalaut, bagian dari Kepulauan Lease, Maluku Tengah, Akoon tidak hanya menyimpan kekayaan budaya, tetapi juga pola penghidupan yang unik. Masyarakatnya terbiasa menjalani lebih dari satu pekerjaan dalam sehari: menjadi nelayan sekaligus petani.
Menghabiskan waktu beberapa minggu di Akoon membuat kami perlahan-lahan memahami pola hidup masyarakat setempat. Apa yang mereka konsumsi—termasuk makanan hangat yang selalu Oma sajikan di meja makan—mencerminkan hasil laut dan hasil kebun yang mereka olah sendiri. Ikan, gurita, bia, sia-sia, serta berbagai sayuran dari kebun menjadi sumber utama kebutuhan subsisten.
Banyak warga, dengan senyum di wajah, mengatakan bahwa mereka tak pernah kekurangan makanan, karena alam telah menyediakan semuanya. “Tinggal orangnya saja. Kalau malas, tidak akan bisa hidup,” ujar Kak Franky, pendamping riset yang setia menemani kami selama di Akoon.
Selain untuk kebutuhan harian, masyarakat Akoon juga menggantungkan ekonomi rumah tangga pada produksi minuman tradisional hasil tipar mayang. Setiap pagi dan sore, kami kerap melihat bapak-bapak memikul jeriken berisi sageru—air nira dari pohon mayang—di pundak atau di atas motor. Minuman ini bukan hanya sumber nafkah yang menghidupi keluarga hingga anak-anak bisa sekolah ke luar daerah, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari ritual adat yang masih dijalankan hingga kini.
Sebagai pulau kecil yang dikelilingi laut, Akoon memiliki pantai-pantai indah dan menjadi rumah bagi biota laut yang beragam. Namun, lebih dari keindahan alamnya, Akoon menyuguhkan kehangatan dari keramahan warganya. Tak terhitung berapa kali kami didoakan—baik di gereja maupun dalam doa bersama sebelum upacara adat—meski kami berbeda keyakinan. Masyarakat Akoon sangat terbuka, dan kami diajak terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari acara masuk marga, patita perpisahan ibu pendeta, hingga ritual tutup sasi.
Tantangan sempat muncul saat kami kesulitan menggali data karena cakupan tema yang luas. Namun berkat bantuan para pendamping dan kesediaan warga untuk berbagi cerita, tantangan tersebut dapat kami lalui dengan minim kendala. Selama hampir dua bulan tinggal dan terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Akoon, kami tak hanya belajar tentang sejarah dan pola penghidupan mereka, tetapi juga memahami dinamika masyarakat pesisir, terutama di pulau-pulau kecil.
Kami belajar tentang semangat warga Akoon dalam menyekolahkan anak-anak mereka setinggi mungkin, dan bagaimana mereka menjaga alam dan ruang hidup dengan nilai-nilai adat. Kami berharap hasil riset ini dapat diselesaikan dengan baik dan dipertanggungjawabkan secara etis, karena yang kami bawa adalah suara dan kisah dari orang-orang Akoon yang kami temui dan kenal secara langsung.
Semoga luaran magang ini dapat memberi manfaat, baik dalam pendidikan maupun sebagai pengetahuan yang bisa diakses lebih luas, khususnya oleh masyarakat Akoon sendiri. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu selama riset: Kak Angky, Kak Linda, Oma Mesi, Oma Ube, Bapak Eki, Kak Petra, Kak Lenny, serta nama-nama lain yang tak bisa disebutkan satu per satu. Kesan baik akan selalu kami ingat—tentang pengalaman, persahabatan, dan pelajaran hidup yang kami dapatkan selama berada di Akoon.





