Skip to main content

Kegiatan Riset

Challenges and opportunities of digitalising waste management: Towards a socially and environmentally just green transition in Indonesian smart cities (DigSmart) – Birgit Bräuchler

Proyek DigSmart merupakan riset kolaboratif yang digagas untuk merespons krisis pengelolaan sampah di Indonesia di tengah agenda kota pintar dan transisi hijau yang semakin menguat. Proyek ini dilaksanakan oleh tim peneliti interdisipliner bersama mitra pemerintah, organisasi masyarakat sipil, jurnalis lingkungan, dan pengembang aplikasi digital di beberapa kota studi kasus dengan karakter sosial dan geografis yang beragam. Berangkat dari meningkatnya emisi gas rumah kaca dan proyeksi kenaikan volume sampah akibat pertumbuhan penduduk serta pendapatan, proyek ini menelaah bagaimana digitalisasi dalam pengelolaan sampah dipahami, dikembangkan, dan diterapkan, serta apa implikasi sosial, ekonomi, dan ekologisnya, termasuk terhadap kelompok rentan seperti pemulung informal. Tujuannya adalah merumuskan rekomendasi kebijakan untuk mendorong transisi hijau yang adil secara sosial dan lingkungan melalui integrasi teknologi digital dalam kerangka ekonomi sirkular. Dengan pendekatan riset interdisipliner yang dikombinasikan dengan penguatan kapasitas dan strategi diseminasi publik melalui lokakarya, pameran, film dokumenter, publikasi ilmiah, dan kampanye media sosial, proyek ini berupaya tidak hanya menghasilkan pengetahuan akademik tetapi juga memfasilitasi transformasi praktik pengelolaan sampah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Fire Play: SPREAD

Principal Investigator:
Sofyan Ansori, Ph.D.
Aryo Danusiri, Ph.D.
S. Paramita B. Utami, M.A.

Project Manager:
Farhan, S.Sos

Administrative Assistant:
Areta Raina Ihsan, S.Sos

Event Coordinator:
Gadis Azalia Tiara Kasih, S.Sos

Researcher:
Angela Iban

Finance:
Dewi Zimarny

Proyek “Fire Play: SPREAD (Sustaining just-Policy and Recognition through Equitable and Amplifiable Dissemination)” merupakan proyek lanjutan dari Fireplay yang mendokumentasikan tata kelola api masyarakat adat, yang kini berfokus pada penguatan dampak melalui strategi diseminasi multiskala pada tingkat lokal, nasional, dan internasional sepanjang Juli 2025 hingga Desember 2026. Proyek ini dijalankan oleh tim peneliti secara interdisipliner dengan menempatkan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) sebagai landasan kerja, termasuk mendorong partisipasi peneliti perempuan, kaum muda, serta memperkuat inklusi masyarakat Dayak dalam produksi dan penyebaran pengetahuan. Melalui rangkaian kegiatan seperti produksi multimedia kolaboratif, pemutaran dan diskusi antar-desa, lokakarya diseminasi riset dan fellowship penulisan, serta simposium dan pameran internasional bertema api, proyek ini bertujuan memperluas pengakuan publik atas kerja-kerja lingkungan masyarakat adat, memperkuat hak penentuan nasib sendiri masyarakat Dayak, dan mendorong berkembangnya wacana serta kebijakan pengelolaan api yang lebih berorientasi pada keadilan dan perspektif adat.

Proyek Magang Bermakna (Belajar, Mengajar, dan Aksi di Sanggar Anak Migran Indonesia di Malaysia)

Penyusun Program:
Hestu Prahara, Ph.D.

Program Magang BERMAKNA (Belajar, Mengajar, dan Aksi) merupakan inisiatif Program Studi Sarjana Antropologi Universitas Indonesia yang dilaksanakan bersama sanggar pendidikan anak-anak migran Indonesia di Malaysia yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia sebagai bagian dari perlindungan warga negara di luar negeri. Program ini menyasar dua belas sanggar di Semenanjung Malaysia yang menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak dari keluarga migran tidak berdokumen yang berisiko stateless dan tidak memiliki akses pendidikan formal. Melalui keterlibatan langsung selama kurang lebih satu setengah bulan, mahasiswa magang berperan sebagai pendamping dan pengajar dengan pendekatan meaningful participation yang konsisten, relasional, dan bertanggung jawab. Program ini dilaksanakan untuk memahami dinamika pendidikan dalam konteks migrasi dan ketidakpastian hukum sekaligus menjawab kebutuhan penguatan pembelajaran di sanggar. Dengan pendekatan etnografi ringan dan non-ekstraktif yang berbasis refleksi, observasi partisipatif, serta dialog, mahasiswa menghasilkan laporan etnografi dan rancangan inovasi sosial yang dapat dimanfaatkan oleh pengelola sanggar dan KBRI, sekaligus memperkuat model pembelajaran berbasis pengalaman di lingkungan akademik.

Decolonizing Humanities Fellowship

Penyusun Program:
Dr.phil. Imam Ardhianto

Decolonizing Humanities Fellowship adalah program yang diselenggarakan oleh Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dengan dukungan Gerda Henkel Stiftung yang ditujukan bagi akademisi tingkat menengah dari kawasan Global South untuk menantang dominasi kerangka kolonial dan Eurosentris dalam studi humaniora global. Program ini hadir sebagai respons atas ketimpangan struktural yang selama ini membatasi akses, kolaborasi, dan intervensi konseptual sarjana Global South dalam percakapan akademik internasional. Kegiatan ini dilaksanakan di Universitas Indonesia sebagai institusi unggulan di Asia Tenggara dan dirancang berlangsung selama enam hingga dua belas bulan dalam bentuk riset, kolaborasi, serta diseminasi pengetahuan. Melalui pendekatan South to South, program ini mendorong eksperimen epistemologis, penguatan jejaring kolaboratif berkelanjutan, serta pengarusutamaan perspektif selatan dalam arus utama humaniora. Dengan dukungan material dan intelektual, inisiatif ini bertujuan membangun ekosistem akademik yang kritis, eksperimental, dan berorientasi pada transformasi pemikiran dekolonial di tingkat global.

"Reimagining Circularity: Critical Mineral Governance and Just Transitions in Indonesia"

Riset “Reimagining Circularity: Critical Mineral Governance and Just Transitions in Indonesia” adalah proyek yang dipayungi oleh Asia Research Centre Universitas Indonesia (ARC UI) yang bertujuan mengkaji ulang praktik dan imajinasi sirkularitas dalam industri ekstraktif mineral kritis seperti nikel, bauksit, dan tembaga di Indonesia. Riset ini dilakukan oleh tim peneliti bersama empat mahasiswa magang Program Studi Sarjana Antropologi UI dengan fokus penelitian di wilayah sekitar perusahaan tambang yang berada di Weda, Halmahera Selatan, Maluku Utara sebagai salah satu pusat industrialisasi nikel. Selain menelaah pengelolaan tailing dan sirkularitas produksi baterai, proyek ini meneliti dampak sosial dan ekologis industri baru terhadap masyarakat tempatan, termasuk perubahan bentuk kehidupan, penghidupan, serta bayangan masa depan selepas tambang. Melalui pendekatan etnografi yang empiris dan kolaboratif, riset ini dilaksanakan untuk memahami sejauh mana transformasi industri selaras dengan prinsip keadilan sosial dan keberlanjutan, sekaligus membangun kepekaan riset mahasiswa terhadap dinamika industrialisasi dan tata kelola sumber daya mineral di era transisi energi global.

Aging in Silence: Understanding the Lifecourse and Elderly Care through Comparative Studies of Industrial Areas and Highland Communities in West Java, Indonesia

Ketua:
Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono (Dosen)

Anggota:
Dra. Mira Indiwara Pakan, MA (Dosen)
Dea Rifia Bella, S.Sos, M.Si (Eksternal)
Dewi Sekar Farrasyifa, S.Sos (Eksternal)
Dina Amalia Susamto (Mahasiswa Doktoral)

Projek riset yang diketuai oleh Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono ini merupakan studi etnografi komparatif yang dilakukan untuk memahami bagaimana pengalaman hidup di masa lalu membentuk kondisi penuaan dan praktik perawatan lansia di Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan di dua lokasi berbeda yaitu Megamendung sebagai kawasan pegunungan berbasis pariwisata dan Ciluar sebagai kawasan industri. Melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan lansia usia 60–80 tahun beserta keluarga dan kerabatnya, studi ini menelusuri dampak perubahan sosial seperti industrialisasi, pergeseran ruang hidup terhadap relasi antar generasi, dan transmisi pengetahuan budaya. Temuan penelitian menunjukkan munculnya kondisi yang disebut “penuaan dalam kesunyian” yaitu situasi ketika lansia tetap hadir dalam keluarga dan komunitas tetapi semakin kehilangan ruang untuk menyuarakan pengalaman serta mewariskan pengetahuan mereka di tengah perubahan sosial yang cepat.

Receh Copas (Research Courses of Housing – Community Palliative Service)

Penanggung Jawab Program:
Joko Adianto (Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, UI)

Penyusun Program:
Joko Adianto, S.T., M.Ars., Ph.D
Hestu Prahara, Ph.D
Dr. Phil. Imam Ardhianto
Rossa Turpuk Gabe, S.Ars, M.Ars

RECEH COPAS (Community Palliative Service) merupakan program riset dan pembelajaran lintas disiplin yang diselenggarakan Universitas Indonesia untuk membaca perumahan dan permukiman sebagai ruang perawatan paliatif berbasis komunitas di wilayah Jabodetabek. Program ini melibatkan mahasiswa dari berbagai bidang yang bekerja bersama dosen dan pemangku kepentingan selama satu semester dengan bobot 20 SKS. Berangkat dari kesadaran bahwa praktik merawat dan menghadapi kematian sering berlangsung di ruang-ruang yang sempit dan rapuh di kampung kota, program ini menelaah bagaimana rumah dan lingkungan hidup menjadi bagian dari infrastruktur perawatan yang jarang terlihat. Melalui riset lapangan dan diskusi kritis, peserta diajak memahami relasi antara ruang, budaya, kesehatan, dan martabat manusia dalam situasi akhir hayat serta merumuskan gagasan perawatan yang lebih peka dan kontekstual.

Makan Bergizi Gratis (MBG): Studi Awal Tentang Peluang, Kendala, dan Tantangan Implementasi Program di Sekolah Dasar di Wilayah DKI Jakarta

Proyek yang membahas isu MBG ini merupakan penelitian yang dilakukan oleh dosen Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia pada tahun 2025 untuk memahami bagaimana program MBG dijalankan di sekolah dasar sebagai bagian dari agenda pembangunan kesehatan dan pendidikan nasional. Penelitian ini berlangsung di lima sekolah dasar yang tersebar di Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat. Melalui wawancara dan pengamatan langsung terhadap siswa, guru, pengelola sekolah, SPPG, serta Badan Gizi Nasional, studi ini menelaah peluang, kendala, dan strategi yang muncul dalam pelaksanaan program. Berangkat dari kebutuhan evaluasi yang lebih kontekstual, penelitian ini berupaya membaca implementasi MBG bukan hanya sebagai kebijakan teknis pemberian makan bergizi, tetapi sebagai proses pembangunan yang melibatkan relasi sosial, infrastruktur, tata kelola, dan partisipasi berbagai pihak di tingkat lokal.

Awareness Building and Strategic Communications for the Strong and Effective Organizations in Indonesia Project

Proyek lokakarya penguatan organisasi masyarakat sipil yang didukung oleh Packard Foundation ini dilaksanakan oleh LPPSP (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial dan Politik) bersama mitra di Palu dan Pontianak untuk memperkuat kapasitas, refleksi kelembagaan, dan keberlanjutan kerja CSO (Civil Society Organization) di tingkat lokal. Kegiatan ini berlangsung selama masa pelaksanaan program dan melibatkan organisasi di berbagai tingkatan kepemimpinan agar tercipta dialog lintas generasi dalam tubuh lembaga. Melalui workshop terstruktur, fasilitasi partisipatif, serta penggunaan alat refleksi organisasi Cermin Lembaga, proyek ini mendorong CSO untuk menilai praktik manajemen mereka, membahas kesenjangan pengetahuan, dan mengangkat isu kesetaraan serta dinamika gender dalam aktivisme. Berangkat dari kebutuhan akan ruang aman untuk refleksi dan kolaborasi, proyek ini tidak hanya memperkuat jejaring antar organisasi, tetapi juga menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam membangun gerakan masyarakat sipil di Indonesia.

ANTARMUKA: Etnografi Panel Surya Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat

Penyusun Proyek:
Irfan Nugraha, M. Si.

Etnografi Panel Surya Terapung di Waduk Cirata merupakan program magang riset lapangan yang diselenggarakan Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia untuk mengkaji dampak sosial, ekonomi, dan ekologis dari kehadiran PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat. Program ini melibatkan mahasiswa sarjana yang terjun langsung selama tiga bulan ke Desa Ciroyom, Citamiang, dan wilayah sekitar Waduk Cirata untuk menelusuri bagaimana proyek energi terbarukan tersebut membentuk ulang ruang hidup dan relasi masyarakat. Melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan pendekatan visual kolaboratif, penelitian ini merekam perubahan cara orang bekerja, bergerak, dan memaknai waduk sebagai ruang yang selama ini menghidupi mereka. Berangkat dari ketegangan antara narasi transisi energi hijau dan realitas keseharian warga, program ini melihat infrastruktur bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai kekuatan yang membentuk relasi sosial, harapan, dan masa depan komunitas.

Fire Play x Pantau Gambut

Penyusun Proyek:
Sofyan Ansori, Ph.D.

Program Fire Play merupakan proyek riset kolaboratif antara PROSPER dan Pantau Gambut yang dikembangkan oleh Program Studi Antropologi Sosial FISIP UI untuk memahami kebakaran lahan gambut melalui perspektif relasi sosial dan penghidupan masyarakat. Berbasis kerja etnografis di Riau dan Kalimantan Tengah, proyek ini menelaah keterkaitan antara komunitas lokal dan komoditas seperti kelapa dan rotan dalam konteks keberlanjutan lanskap gambut. Fire Play dirancang dalam dua fase yang menghubungkan riset lapangan dengan diseminasi publik dan dialog kebijakan, sehingga menghadirkan model pembelajaran dan produksi pengetahuan yang kolaboratif, reflektif, dan berorientasi pada dampak sosial. Melalui pendekatan ini, Fire Play menegaskan komitmen dalam mengembangkan riset yang relevan secara akademik sekaligus berkontribusi pada percakapan publik tentang restorasi gambut, keadilan lingkungan, dan keberlanjutan.

Nabun (No-Burn)

Penyusun Proyek:
Sofyan Ansori, Ph.D.

NABUN (No-Burn) merupakan proyek riset antropologi yang berfokus pada praktik pengelolaan sampah rumah tangga di kawasan urban Jabodetabek, khususnya fenomena pembakaran sampah sebagai strategi informal yang masih banyak dilakukan meskipun telah diatur secara hukum. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana masyarakat memaknai sampah, menegosiasikan keputusan terkait pemilahan dan pembuangan, serta bagaimana faktor sosial, ekonomi, dan gender membentuk praktik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dilaksanakan melalui pendekatan etnografis di Jakarta Selatan, Depok, dan Bogor, proyek ini menggabungkan kerja lapangan kualitatif dan analisis kebijakan untuk menghasilkan pemahaman kontekstual sekaligus rekomendasi bagi pengembangan sistem pengelolaan sampah perkotaan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

A Day at the Museum

Program A Day at the Museum merupakan inisiatif Klaster Tradisi dan Indigenitas Program Studi Antropologi Sosial FISIP UI yang dirancang sebagai ruang pembelajaran berbasis praktik untuk memahami tata kelola museum, pengelolaan koleksi, dan dinamika warisan budaya dalam konteks kontemporer. Program ini dikembangkan melalui kemitraan dengan berbagai institusi, antara lain Museum Tekstil, Museum Wayang, Museum Keramik, Museum Seni Rupa, serta lembaga nasional seperti Museum Nasional, Galeri Nasional, dan Museum Batik. Melalui kolaborasi ini, program menghadirkan pendekatan yang mengintegrasikan kajian material culture, biografi koleksi, dan perspektif kuratorial untuk mempertemukan refleksi akademik antropologi dengan praktik pengelolaan museum dan cagar budaya di Indonesia.

Resilience and Adaptation to Sea Level Rise in Jakarta Bay: Sink or Swim Together (SOS)?

Proyek riset ini meneliti pembangunan tanggul laut raksasa di pesisir utara Jakarta sebagai isu ekologi politik. Penelitian ini dilakukan di wilayah pesisir Jakarta dengan tujuan memahami siapa saja aktor yang terlibat, kepentingan apa yang bekerja di balik proyek, serta bagaimana dampaknya dirasakan oleh masyarakat pesisir seperti nelayan dan warga kampung pantai. Riset ini berangkat dari pertanyaan tentang untuk siapa proyek ini dirancang dan bagaimana narasi pengendalian banjir serta ketahanan iklim diproduksi. Melalui pendekatan etnografi dan analisis kebijakan, penelitian ini menelusuri relasi antara negara, korporasi, dan komunitas lokal dalam proses pembangunan. Proyek ini menghadirkan pembacaan kritis tentang bagaimana infrastruktur berskala besar membentuk ulang ruang hidup, akses terhadap sumber daya, dan keadilan lingkungan di kawasan perkotaan.